Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman dan dengan perasaan

Rabu, 04 Mei 2016

Sedikit throwback dengan cita-cita dulu yang ngebet jadi Dokter Spesialis Anak. Dari mulai SD-SMA kelas 11 cita-cita itu ada, tapi setelah dipikir beberapa kali untuk jadi dokter spesialis itu ga sebentar sekolahnya 11 tahun (perkiraan orang yang gatau apa-apa). Lalu jadi kepikiran, kapan nikahnya dong sekolah selama itu? (wkwk) Singkatcerita, pindah haluan ke Ilmu Psikologi yang Allah takdirkan aku juga suka dan ngebet ke Psikologi, dan berjodoh dengan Psikologi. Finally rasanya kuliah di psikologi nyaris sama asem-manis kayak kuliah di kedokteran. Apalagi ketika kenal matakuliah Biopsikologi dan Psikologi Abnormal.

Cerita dan inspirasi yang mau saya bagi adalah ketika saya berada dikelas Psikologi Abnormal.

Dalam setiap pertemuan, dosen pengampu selalu menjelaskan berbagai macam mental disorder (gangguan mental) disertai dengan kasus baik yang sudah ditanganinya atau ditangani psikolog lain. Penjelasannya selalu membuat mahasiswa terutama saya dapat berimajinasi tentang hal itu. Sangat menarik. Yang beliau sering bicarakan adalah salah satunya mengenai sikap lingkungan terhadap si penderita. Ada yang betul-betul memahami penyakitnya, sampai ada yang mendiskriminasi karena penyakit yang dialaminya. Saya sangat mengapresiasi terhadap keluarga dan lingkungan yang dapat menerima dengan baik, karena masih banyak lingkungan yang mendiskriminasikan penderita sakit mental. Dan satu hal lagi, lingkungan khususnya keluarga masih banyak yang belum peka dengan kondisi psikologis orang disekitarnya. Seperti anak yang terkena panas tinggi tanpa pikir panjang orangtua seringkali langsung membawanya kedokter, tapi kalau anak yang setiap hari diam dikamar, melamun, dianggapnya baik-baik saja padahal ternyata tidak baik. Kalau sakit fisik kita bisa diindra dengan jelas, kalau sakit psikis tidak. Tapi orangtua harus segera mawas, kalau sakit fisik maupun psikis (terutama psikis) harus segera ditangani.

Kalau ada kalimat sakit psikis tidak akan membawa mati = SALAH BESAR

Buktinya? Kita lihat berita berapa banyak orang yang bunuh diri gara-gara stress yang dialaminya, berapa banyak anak yang membunuh orangtuanya gara-gara penyakit jiwanya, berapa banyak anak yang melakukan tindak kejahatan akibat keluarga yang tidak harmonis, dan berapa banyak orang yang berjalan dijalanan tanpa busana akibat depresi berat yang dialaminya.

Dan lagi-lagi, salahnya lingkungan seringkali mendiskriminasikan orang dengan penyakit mental daripada orang dengan penyakit fisiknya. Kenapa? Padahal sama saja, sama-sama butuh perawatan dan perhatian. Bukan cacian atau pengusiran.

Lewat cerita singkat dan sederhana ini, saya ingin membagi sebuah pelajaran ketika perkuliahan. Saya ingin mengajak siapapun, khususnya para orangtua untuk lebih peka terhadap perubahan psikologis anak, dan keluarga, berusaha untuk tidak saling menyakiti satusama lain, dan jangan pernah sepelekan penyakit psikis. Terakhir, JANGAN DISKRIMINASIKAN PENDERITA SAKIT MENTAL.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts