Sedikit throwback dengan cita-cita dulu yang ngebet jadi Dokter Spesialis Anak. Dari mulai SD-SMA kelas 11 cita-cita itu ada, tapi setelah dipikir beberapa kali untuk jadi dokter spesialis itu ga sebentar sekolahnya 11 tahun (perkiraan orang yang gatau apa-apa). Lalu jadi kepikiran, kapan nikahnya dong sekolah selama itu? (wkwk) Singkatcerita, pindah haluan ke Ilmu Psikologi yang Allah takdirkan aku juga suka dan ngebet ke Psikologi, dan berjodoh dengan Psikologi. Finally rasanya kuliah di psikologi nyaris sama asem-manis kayak kuliah di kedokteran. Apalagi ketika kenal matakuliah Biopsikologi dan Psikologi Abnormal.
Cerita dan inspirasi yang mau saya bagi adalah ketika saya berada dikelas Psikologi Abnormal.
Kalau ada kalimat sakit psikis tidak akan membawa mati = SALAH BESAR
Buktinya? Kita lihat berita berapa banyak orang yang bunuh diri gara-gara stress yang dialaminya, berapa banyak anak yang membunuh orangtuanya gara-gara penyakit jiwanya, berapa banyak anak yang melakukan tindak kejahatan akibat keluarga yang tidak harmonis, dan berapa banyak orang yang berjalan dijalanan tanpa busana akibat depresi berat yang dialaminya.
Dan lagi-lagi, salahnya lingkungan seringkali mendiskriminasikan orang dengan penyakit mental daripada orang dengan penyakit fisiknya. Kenapa? Padahal sama saja, sama-sama butuh perawatan dan perhatian. Bukan cacian atau pengusiran.
Lewat cerita singkat dan sederhana ini, saya ingin membagi sebuah pelajaran ketika perkuliahan. Saya ingin mengajak siapapun, khususnya para orangtua untuk lebih peka terhadap perubahan psikologis anak, dan keluarga, berusaha untuk tidak saling menyakiti satusama lain, dan jangan pernah sepelekan penyakit psikis. Terakhir, JANGAN DISKRIMINASIKAN PENDERITA SAKIT MENTAL.
0 komentar:
Posting Komentar