Nanti,
Jika aku masih bertahan dengan nafas berat di sisa usiaku.
Aku masih bisa berjalan dengan kekuatan tulang yang sekadarnya.
Aku ingin habiskan waktu ku denganmu, walau hanya diatas kursi goyang tua, asalkan kita bersama.
Aku mau....
Dalam desah nafasku yang masih ringan
Langkahku tegak sampai ujung pantai
Dalam warna yang masih bisa ku lihat dengan nyata
Abjad yang jelas tertera dalam lembar buku tentangmu
Aku masih diam merangkai senyum, menenun rindu
Mengupas warna sendu yang abu menjadi jingga seperti milik senja
Menggumpalkan setiap tetes tegar untuk menjadi sabar tiada batas
Aku, tak mau sendu mengerubuni rindu ku
Maka aku, merangkainya dalam do'a disujud dan ruku' ku, agar rindu terbang dengan damai menuju bahtera yang Maha Damai.
Aku mencintainya bukan karena ia adalah wujud yang sempurna
Aku mencintainya, karena aku merasa sempurna olehnya
Karena cinta hadir dari tangan yang Maha Suci, maka hakikat cinta adalah kesucian.
Rindu ini tak sekedar berbicara tentang cinta, lebih besar dari itu melibatkan seluruh dimensi hati dan jiwa.
Dan masih tentang rindu, cinta dan sepi.
Sampai kapanpun, cinta masih tetap menjadi cerita dramatis; bisa dibuat menangis dan tertawa karenanya.
Bila cinta mereka adalah merah jambu, aku punya warna cintaku sendiri.
BIRU, itu warna cinta yang ku pilinkan di dada ku dan mu.
-Putri Senja

0 komentar:
Posting Komentar