Resensi Film Into The Wild
Tokoh utama bernama Christophe
Johnson. Film berdurasi 2 jam lebih ini terinspirasi dari kisah nyata dari
seorang Christopher Johnson yang mencari makna hidupnya ke alam liar, Alaska.
Masa kecilnya hidup dengan bahagia,
yang terlahir dari orang tua yang ambisius dan ia mempunyai seorang adik
perempuan. Hanya semakin ia besar, semakin sering orang tuanya bertengkar
sehingga ia jenuh dengan keadaan orang tua-nya yang seperti itu. Ayahnya tidak
mampu berlaku adil terhadap dirinya, sehingga ia membenci ayahnya sendiri.
Kemudian ia mampu menjadi seorang
yang sukses ia pun telah menikah dengan seorang gadis yang cantik. Namun ia
merasa tidak puas dengan yang diperoleh dan melihat kehidupan penuh dengan
aturan dan kekangan. Ia merasa haus akan kebebasan. Maka ia pergi sejauh
mungkin, dan menutupi jejak kepergiannya agar tidak ada satu orangpun yang ia
kenal dapat menemukannya. Ia mengubah pola hidupnya dan membuang seluruh
identitasnya, juga mengganti namanya mejadi Alex.
Ia pergi ke alam liar, tujuannya
adalah Alaska. Ia berusaha sangat keras untuk berhasil sampai disana.
Beberapakali ia bekerja untuk persediaan makanan dan mencuri perahu untuk
transportasi menuju alaska.
Sampai akhirnya ia sampai di alam
liar bernamakan Alaska. Ia temukan kepuasan hidup dan kebebasan hidupnya
disana, dan meninggal dunia disana.

Analisis Film Into The Wild
Film into the wild ini secara garis
besar mendeskripsikan pencarian jati diri, makna hidup, dan aktualisasi diri
seseorang. Lingkungan dan kehidupan yang mendorong ia untuk mencari makna hidup
dan kebebasan yang lain di alam liar Alaska.
Beberapa aspek kehidupan yang
dimaknai Christopher keberartian hidup, kepuasan hidup, dan kebebasan hidup. Ia
mencari kesemuanya itu ke alam liar Alaska. Ia memiliki banyak cara untuk
mencapai tujuan hidupnya itu.
Creative Value yang dilakukan
Christopher adalah pergi menjauhi orang-orang terdekatnya, pergi menggunakan
mobil dan menghilangkan jejaknya, lalu mengilangkan segala identitas dan
menggantikannya dengan identitas yang baru, mencuri perahu kecil untuk
transportasi menuju Alaska.
Frankl menyatakan dalam teorinya cara
seseorang mencapai makna hidup adalah dengan 3 cara, yaitu Creative Value,
Eksperiensial Value, dan Etitudinal Value. Yang terpenuhi oleh Christopher
hanya Creative Value dan Etitudinal Value sedangkan Eksperiensial Value tidak
terpenuhi. Sehingga inilah, yang menyebabkan kebahagiaan yang ia peroleh sangat
singkat yang berujung pada kebosanan menjalani hidup, frustasi, depresi, merasa
hidupnya tidak berarti, hampa, tidak punya tujuan hidup, putus asa dan
akhrirnya meninggal dunia karenanya.
Sedangkan dalam hierarki kebutuhan
Abraham Maslow, hanya sedikit yang terpenuhi oleh Christopher. Kebutuhan
fisiologi terpenuhi, hanya kebutuhan sexual terhambat karena keterpisahannya
dengan orang-orang. Safety, ia mampu menjaga dirinya dengan baik namun tidak
dijaga dengan kehadiran orang lain. Belonging and love, Christopher
mendapatkannya hanya dari adik dan istrinya, sementara orang tuanya sedikit
mengabaikan, setelah terpisah dari orang-orang maka ia kehilangan seluruh
kebutuhan belonging and love. Self esteem, kebutuhan yang tidak terpenuhi
karena dia terlahir sebagai “anak haram” dan tidak ada dunia sosial di Alaska.
Aktualisasi diri, kebutuhan ini terpenuhi. Ia mampu mencapai apa yang dia
inginkan, jati dirinya, dan makna hidupnya. Namun karena keempat kebutuhan
lainnya tidak terpenuhi bahkan hilang, jadi kebahagiaan yang diperolehnya
sangat singkat. Sehingga berujung ketidak berdayaan dalam hidup, dsb. Sehingga
hal itu menjadi salah satu faktor Christopher meninggal dunia.




