Dewasa ini hangat mengenai isu LGBT (Lesbian Gay Biseksual
dan Transgender). Kehangatan mengenai LGBT muncul ketika Amerika telah
memberikan legalisasi pada perilaku sex yang menyimpang, padahal saya yakin
jauh sebelum legalisasi itu LGBT sudah bertebaran di seluruh negara termasuk
Indonesia. Meskipun perilaku menyimpang LGBT kini diperdebatkan dikalangan para
ahli, ada yang berpendapat bahwa LGBT bukan sebuah gangguan dan ada pula yang
berpendapat bahwa LGBT adalah gangguan, namun sejatinya manusia diciptakan
berpasang-pasangan; laki-laki dan perempuan. Sehingga tidak bisa dianggap perilaku
yang normal jika melenceng dari fitrah atau potensi yang telah diberikan. Ahli
klinis berpendapat, meskipun orang yang melanggar fitrah mengaku ia bahagia
dengan keadaannya, namun pasti jauh dilubuk hatinya ada alarm yang senantiasa
menyala, mengingatkan bahwa perilakunya salah, kecuali jika hatinya sudah
benar-benar gelap dari kebenaran.
Banyak hal yang melatar belakangi seseorang berperilaku
menyimpang, salah satunya dan yang paling penting adalah pendidikan yang
diberikan oleh orangtuanya. Bagaimana tidak? Sekolah yang pertama kali bagi
anak adalah ibu dan ayahnya lalu keluarganya. Karenanya, peran keluarga sangat
krusial bagi tumbuh-kembang anak baik dari segi fisik maupun psikisnya.
Dalam menghadapi zaman yang semakin entah ini, orangtua harus
semakin sadar akan perannya masing-masing. Dan harus semakin semangat untuk
mencari tau bagaimana seharusnya orangtua mendidik anak. Pada masa konsepsi
sampai usia 2 tahun ibu menjadi agen penting bagi anak, darinya anak mulai
belajar mengenai banyak hal. Lalu pada masa kanak-kanak awal-akhir ibu dan ayah
menjadi agen penting bagi anak. Dan ketika remaja, teman-temannya lah yang
menjadi agen penting bagi perkembangan psikoogisnya. Meskipun ada perbedaan
disetiap masanya, tetap saja akan saling berkaitan satu sama lain; masa bayi
akan mempengaruhi masa kanak-kanak, masa kanak-kanak akan mempengaruhi masa
remaja, dan seterusnya. Artinya, untuk manusia dengan ras/agama/bangsa apapun
peran pendidikan orangtua adalah peran yang sangat fundamental bagi
perkembangan anak khususnya aspek psikologis anak.
Pengenalan identitas diri terutama gender atau peran sosial
laki-laki selayaknya laki-laki dan peran sosial perempuan selayaknya perempuan
harus dimulai dari sejak bayi, agar anak benar-benar mengenal betul sebagai apa
dan siapa dirinya. Pengenalan gender ini bisa dimulai dengan mengenakan pakaian
yang sesuai jenis kelaminnya, warna yang identik dengan jenis kelaminnya, teman
sepermainannya, dan mainan-mainan yang identik dengan jenis kelaminnya. Ketika
anak sudah menyukai hal-hal yang berbau lawan jenisnya, orangtua patut untuk
waspada dan mengarahkan anak kepada yang seharusnya.
Ketika anak akan memasuki masa remaja, idealnya orangtua
harus menjelaskan terlebih dahulu pada anak apa yang akan anak alami ketika
remaja. Pembicaraan mengenai pubertas dan sex masih sangat tabu antara anak dan
orangtua, padahal orangtua masa kini dilarang tabu untuk mendiskusikan masalah
ini dengan anak-anak yang akan memasuki remaja. Karena pasalnya, banyak anak
remaja yang malu untuk bertanya pada orangtua yang pada akhirnya mencari tau
sendiri di internet atau bertanya pada temannya. Hal itu akan menjadi masalah,
jika ternyata anak terjangkit virus pornografi akibat rasa penasaran yang tidak
bisa disalurkan pada orangtua hingga akhirnya disalurkan melalui internet atau
temannya. Untuk mengurangi suasana tabu dalam mendiskusikan masalah sex,
komunikasikan dengan sesama jenisnya; jika anak laki-laki komunikasikan oleh
ayah dan jika anak perempuan komunikasikan oleh ibu. Maka disini orangtua
haruslah mengkomunikasikannya dengan tepat, jangan sampai akibat penjelasan
dari orangtua anak justru semakin penasaran.
Dizaman seperti ini khazanah pengetahuan orangtua diwajibkan
lebih luas dari anaknya. Karena informasi apapun saat ini dapat dengan mudah
diakses oleh siapapun, bahkan anak-anak sekalipun. Maka orangtua minimalnya
wajib tau apa yang anak ketahui.
Peran orangtua yang tak kalah penting adalah dalam hal
mendidik jiwa spiritualitasnya. Orangtua tetap memiliki peran penting dalam hal
ini tidak bisa melepaskan tanggung jawab pendidikan agama kepada siapapun tanpa
peran orangtua. Orangtua harus mampu menanamkan nilai-nilai agama sejak dini
dan konsisten. Agar ketika anak semakin dewasa, semakin tau mana yang benar dan
mana yang salah, mana yang pantas untuk dilakukan dan mana yang tidak pantas
untuk dilakukan sesuai dengan nilai-nilai agamanya. Karena pada dasarnya agama
apapun pasti mengajarkan nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan.
Sering kali dijumpai orangtua yang memenjarakan anaknya
dirumah karena takut salah pergaulan. Kekhawatiran orangtua adalah hal yang
wajar, namun memenjarakan anak bukanlah solusi yang tepat. Karena pada masa
remaja dunia anak adalah teman sebayanya, mereka harus bisa beradaptasi dengan
lingkungan-lingkungan baru. Lalu tugas orangtua adalah mengontrol anak dengan
siapa bergaul, teman-temannya seperti apa, dan seterusnya. Yang terpenting
adalah berikan ruang diskusi yang terbuka antara orangtua dengan anak, sehingga
ketika anak menjumpai masalah yang pertama kali ia cari adalah orangtuanya.
Menjadi orangtua bukan perkara yang mudah, tapi tidak terlalu
sulit selama orangtua mau terus belajar kepada siapapun dan dari manapun,
termasuk belajar dari anaknya sendiri. Menjadi orangtua masa kini harus ‘melek’
dengan perkembangan zaman dan teknologi, agar bisa mengontrol anak dan mencari
ilmu sebanyak-banyaknya melalui teknologi ini.







