Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman dan dengan perasaan

Catatan Kecil Cinta

Perhatikan Mental

Resensi dan Analisis Film Into The Wild

Kamis, 14 Juli 2016




Dewasa ini hangat mengenai isu LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender). Kehangatan mengenai LGBT muncul ketika Amerika telah memberikan legalisasi pada perilaku sex yang menyimpang, padahal saya yakin jauh sebelum legalisasi itu LGBT sudah bertebaran di seluruh negara termasuk Indonesia. Meskipun perilaku menyimpang LGBT kini diperdebatkan dikalangan para ahli, ada yang berpendapat bahwa LGBT bukan sebuah gangguan dan ada pula yang berpendapat bahwa LGBT adalah gangguan, namun sejatinya manusia diciptakan berpasang-pasangan; laki-laki dan perempuan. Sehingga tidak bisa dianggap perilaku yang normal jika melenceng dari fitrah atau potensi yang telah diberikan. Ahli klinis berpendapat, meskipun orang yang melanggar fitrah mengaku ia bahagia dengan keadaannya, namun pasti jauh dilubuk hatinya ada alarm yang senantiasa menyala, mengingatkan bahwa perilakunya salah, kecuali jika hatinya sudah benar-benar gelap dari kebenaran.

Banyak hal yang melatar belakangi seseorang berperilaku menyimpang, salah satunya dan yang paling penting adalah pendidikan yang diberikan oleh orangtuanya. Bagaimana tidak? Sekolah yang pertama kali bagi anak adalah ibu dan ayahnya lalu keluarganya. Karenanya, peran keluarga sangat krusial bagi tumbuh-kembang anak baik dari segi fisik maupun psikisnya.

Dalam menghadapi zaman yang semakin entah ini, orangtua harus semakin sadar akan perannya masing-masing. Dan harus semakin semangat untuk mencari tau bagaimana seharusnya orangtua mendidik anak. Pada masa konsepsi sampai usia 2 tahun ibu menjadi agen penting bagi anak, darinya anak mulai belajar mengenai banyak hal. Lalu pada masa kanak-kanak awal-akhir ibu dan ayah menjadi agen penting bagi anak. Dan ketika remaja, teman-temannya lah yang menjadi agen penting bagi perkembangan psikoogisnya. Meskipun ada perbedaan disetiap masanya, tetap saja akan saling berkaitan satu sama lain; masa bayi akan mempengaruhi masa kanak-kanak, masa kanak-kanak akan mempengaruhi masa remaja, dan seterusnya. Artinya, untuk manusia dengan ras/agama/bangsa apapun peran pendidikan orangtua adalah peran yang sangat fundamental bagi perkembangan anak khususnya aspek psikologis anak.

Pengenalan identitas diri terutama gender atau peran sosial laki-laki selayaknya laki-laki dan peran sosial perempuan selayaknya perempuan harus dimulai dari sejak bayi, agar anak benar-benar mengenal betul sebagai apa dan siapa dirinya. Pengenalan gender ini bisa dimulai dengan mengenakan pakaian yang sesuai jenis kelaminnya, warna yang identik dengan jenis kelaminnya, teman sepermainannya, dan mainan-mainan yang identik dengan jenis kelaminnya. Ketika anak sudah menyukai hal-hal yang berbau lawan jenisnya, orangtua patut untuk waspada dan mengarahkan anak kepada yang seharusnya. 

Ketika anak akan memasuki masa remaja, idealnya orangtua harus menjelaskan terlebih dahulu pada anak apa yang akan anak alami ketika remaja. Pembicaraan mengenai pubertas dan sex masih sangat tabu antara anak dan orangtua, padahal orangtua masa kini dilarang tabu untuk mendiskusikan masalah ini dengan anak-anak yang akan memasuki remaja. Karena pasalnya, banyak anak remaja yang malu untuk bertanya pada orangtua yang pada akhirnya mencari tau sendiri di internet atau bertanya pada temannya. Hal itu akan menjadi masalah, jika ternyata anak terjangkit virus pornografi akibat rasa penasaran yang tidak bisa disalurkan pada orangtua hingga akhirnya disalurkan melalui internet atau temannya. Untuk mengurangi suasana tabu dalam mendiskusikan masalah sex, komunikasikan dengan sesama jenisnya; jika anak laki-laki komunikasikan oleh ayah dan jika anak perempuan komunikasikan oleh ibu. Maka disini orangtua haruslah mengkomunikasikannya dengan tepat, jangan sampai akibat penjelasan dari orangtua anak justru semakin penasaran. 

Dizaman seperti ini khazanah pengetahuan orangtua diwajibkan lebih luas dari anaknya. Karena informasi apapun saat ini dapat dengan mudah diakses oleh siapapun, bahkan anak-anak sekalipun. Maka orangtua minimalnya wajib tau apa yang anak ketahui.

Peran orangtua yang tak kalah penting adalah dalam hal mendidik jiwa spiritualitasnya. Orangtua tetap memiliki peran penting dalam hal ini tidak bisa melepaskan tanggung jawab pendidikan agama kepada siapapun tanpa peran orangtua. Orangtua harus mampu menanamkan nilai-nilai agama sejak dini dan konsisten. Agar ketika anak semakin dewasa, semakin tau mana yang benar dan mana yang salah, mana yang pantas untuk dilakukan dan mana yang tidak pantas untuk dilakukan sesuai dengan nilai-nilai agamanya. Karena pada dasarnya agama apapun pasti mengajarkan nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan.

Sering kali dijumpai orangtua yang memenjarakan anaknya dirumah karena takut salah pergaulan. Kekhawatiran orangtua adalah hal yang wajar, namun memenjarakan anak bukanlah solusi yang tepat. Karena pada masa remaja dunia anak adalah teman sebayanya, mereka harus bisa beradaptasi dengan lingkungan-lingkungan baru. Lalu tugas orangtua adalah mengontrol anak dengan siapa bergaul, teman-temannya seperti apa, dan seterusnya. Yang terpenting adalah berikan ruang diskusi yang terbuka antara orangtua dengan anak, sehingga ketika anak menjumpai masalah yang pertama kali ia cari adalah orangtuanya.

Menjadi orangtua bukan perkara yang mudah, tapi tidak terlalu sulit selama orangtua mau terus belajar kepada siapapun dan dari manapun, termasuk belajar dari anaknya sendiri. Menjadi orangtua masa kini harus ‘melek’ dengan perkembangan zaman dan teknologi, agar bisa mengontrol anak dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya melalui teknologi ini.

Jumat, 17 Juni 2016



Dalam bahasa Indonesia, Bully/Bullying dapat diartikan sebagai penganiayaan atau mengganggu terhadap orang yang lemah. Hal ini sudah terjadi sejak belasan tahun ke belakang, namun tersorot oleh media hanya beberapa tahun ke belakang. Padahal, penganiayaan/bullying  ini akan sangat berpengaruh bagi kesehatan fisik maupun psikis anak. Praktek bullying ini biasa terjadi pada kalangan muda; usia anak-anak akhir-usia remaja. Biasanya, yang melatar belakangi bullying adalah karena mencari perhatian dari teman sebaya dan orang tua mereka, atau juga karena merasa penting dan merasa memegang kendali[1]. Banyak juga bullying di sekolah dipacu karena meniru tindakan orang dewasa atau program televisi[2].

Latar belakang yang pertama adalah mencari perhatian dari teman sebaya, hal ini timbul dapat disebabkan karena anak mulai bosan atau anak memiliki kemampuan yang melebihi orang lain, sehingga ia ingin mendapatkan perhatian orang lain. Jika anak tidak mampu mengontrol emosinya, maka terjadilah bullying.

Latar belakang yang kedua adalah mencari perhatian dari orang tuanya. Hal ini diakibatkan dari orang tua yang tidak memerhatikan anaknya yang disebabkan oleh banyak faktor, bisa jadi karena orang tuanya sibuk bekerja, atau memang orangtua yang tidak peduli terhadap anaknya. Hal ini lah yang bisa menjadi faktor paling kuat mengapa anak melakukan bullying.

Latar belakang yang ketiga adalah meniru tindakan orang dewasa atau adegan dalam televisi. Bila kondisi ini yang dialami anak, maka alasan terkuat anak melakukan bullying adalah hal ini. Karena, proses belajar anak yang pertama adalah meniru (modeling), meniru siapapun dan apapun. Ketika anak dibawah didikan figur otoritas yang melakukan bullying, sedang anak memerhatikannya, maka akan dengan mudah diserap oleh otak anak dan masuk ke dalam long term memory (ingatan jangka panjang yang relatif permanen). Karena otak anak bagai spons, jika spons tersebut disiram dengan air sabun atau air selokan, akan dapat menyerap dengan banyak, nyaris utuh. Begitupun dengan otak anak, diberi stimulus apapun ia akan menerimanya tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Sama hal nya dengan anak yang terlalu sering menonton acara televisi yang menayangkan acara yang penuh dengan bullying, anak akan meniru apa yang dilakukan dalam acara televisi tersebut.

            Bullying sering kali dianggap sebagai hal yang biasa saja dikalangan anak-anak maupun remaja. Namun sebenarnya praktek bullying ini akan berdampak hebat bagi masa depan anak, terutama korban dari bullying itu. Jika perkelahian mengakibatkan luka pada fisik, tetapi bullying mengakibatkan luka pada fisik atau psikis, bahkan mungkin keduanya. Hal itu jarang teramati oleh guru maupun orangtua, karena sifatnya yang abstrak dan kasat mata. 

             Praktek bullying akan mencederai hampir seluruh bagian psikis, seperti sosioemosi, kognisi, tingkah laku, identitas diri, dan sebagainya. Dari segi sosioemosi, akan ada beberapa kemungkinan yang terjadi, yaitu anak menjadi pemberontak, anak akan menjadi penakut, anak akan menjadi sangat selektif dalam memilih teman, menjadi penyendiri, dan sebagainya. Dalam identitas dirinya anak akan cenderung merasa dirinya lemah, tak berdaya, self esteem (harga diri) nya turun atau pada kasus yang berat, bisa jadi harga dirinya hancur. Kemudian pada aspek kognitif anak korban bullying akan berdampak terhadap persepsi, memori, bahasa, kreativitasnya dan lain-lain.


            Persepsi terbentuk dari stimulus yang diterima oleh sistem sensorik (pancar indra), kemudian transduksi (pemrosesan), kemudian penyimpanan sensorik ikonik (penyimpanan sementara) atau echonik (memilih informasi yang relevan), kemudia aktivitas pada korteks yang merupakan pengkodean informasi, lalu informasi tersebut diproses kembali lalu masuk ke dalam memori, dan muncul dalam tingkah laku. Yang akan diciderai oleh bullying adalah proses dan hasil mempersepsi itu sendiri. Contoh kecilnya adalah, jika anak menjadi korban bullying oleh orang yang berbadan tinggi, besar, dan berkulit hitam, maka ia akan mempersepsi orang lain yang memiliki ciri-ciri serupa sebagai pembully sehingga ia akan menjauh darinya walaupun dalam kenyataannya orang tersebut baik hati.
            Memori terbagi menjadi 2, yaitu memori jangka pajang (long term memory) dan memori jangka pendek (Short term memory). Jika tadi memori jangka panjang relatif permanen, maka memori jangka pendek adalah memori yang tidak permanen. Ketika anak menjadi korban bullying, maka memorinya akan tercederai oleh ingatan-ingatan buruk tentang dirinya yang dibully. Dan pengalaman tersebut biasanya melekat dalam memori jangka panjang.
            Bahasa merupakan komunikasi verbal. Yang dicederai oleh bullying terhadap bahasa ialah anak akan cenderung diam dalam sebuah lingkungan sosial karena merasa malu, takut, atau tidak punya harga diri.
            Anak korban bullying mungkin akan mengalami hambatan dalam kreativitas karena ketertindasan dirinya. Sehingga ketika ia ingin mengaktualisasikan dirinya, ia terhambat dengan ketakutan terhadap temannya.
            Kesemua hal itu, akan diinterpretasikan pada tingkah lakunya. Orang tua harus tahu betul bagaimana sikap anaknya. Sehingga ketika ditemukan keanehan pada anak, orang tua mampu bertindak. Cara mengenal sifat anak adalah lekatkan emosional orangtua dengan anak, hal itu sekaligus menjadi kunci orang tua, agar anak mau bercerita segala hal yang dialaminya pada orang tuanya.
            Tidak cukup rasanya, yang melakukan pencegahan bullying adalah orangtua saja. Semua pihak harus turut serta melakukan pencegahan ini; orangtua, guru, kakak, adik, walikelas, dan sebagainya. Demi terciptanya generasi yang bermental sehat. Dan mari kita mulai dari diri sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?



[1]http://id.theasianparent.com/si-penindas-di-kelas/. Diakses pada tanggal 09 Desember 2015 Pukul 18.15 WIB.
[2] Ibid

Rabu, 11 Mei 2016

Rabbul Izzati...
izinkan hati ini menuliskan beberapa kalimat yang tertahan sejak lama, diatas kertas hitam hanya aku dan Mu yang mengerti tentang segalanya.
aku hanya memiliki sebuah tanda tanya besar diakhir Desember ini.
aku hanya berharap segalanya terjawab dengan cepat, khidmah juga berkarah.
hanya makna majazi tentang aku melakukan segalanya sendiri.
hakikinya denganMu ku jalani setiap sentimeternya.

Rabbul 'alamiin...
izinkan aku merasakan kepemilikan ini benar-benar memiliki.
tak hanya sekedar senyum dan tawa yang nyata, namun beserta cintannya dan keridhaanMu.
nanti, akan ada lafadz yang takkan pernah aku lupa setiap getarannya.


Aku tak tau pasti bahagia yang bagaimana yang akan menjelma nanti.
namun yang jelas itu yang paling aku rindukan setelah rinduku pada Allah dan Rasul-Nya.

Sejauh ini, air mata tetap menjadi saksi atas segala rasa.
Sejauh ini, hanya senja yang menatap lebih lama senyum kecil yang menepi diwajah.
Sejauh ini, hanya do'a yang saling berpeluk setiap lima waktu bahkan lebih.

Semoga saja, tak ada perpisahan setelah pertemuan antara kita dan hati kita.

Teruntuk seluruh rasa yang bersatu dalam jiwa;
Aku mencintaimu meski cinta tak pernah lahir didunia :)

-Putri Senja, 30 Desember 2013.

Rabu, 04 Mei 2016

Sedikit throwback dengan cita-cita dulu yang ngebet jadi Dokter Spesialis Anak. Dari mulai SD-SMA kelas 11 cita-cita itu ada, tapi setelah dipikir beberapa kali untuk jadi dokter spesialis itu ga sebentar sekolahnya 11 tahun (perkiraan orang yang gatau apa-apa). Lalu jadi kepikiran, kapan nikahnya dong sekolah selama itu? (wkwk) Singkatcerita, pindah haluan ke Ilmu Psikologi yang Allah takdirkan aku juga suka dan ngebet ke Psikologi, dan berjodoh dengan Psikologi. Finally rasanya kuliah di psikologi nyaris sama asem-manis kayak kuliah di kedokteran. Apalagi ketika kenal matakuliah Biopsikologi dan Psikologi Abnormal.

Cerita dan inspirasi yang mau saya bagi adalah ketika saya berada dikelas Psikologi Abnormal.

Dalam setiap pertemuan, dosen pengampu selalu menjelaskan berbagai macam mental disorder (gangguan mental) disertai dengan kasus baik yang sudah ditanganinya atau ditangani psikolog lain. Penjelasannya selalu membuat mahasiswa terutama saya dapat berimajinasi tentang hal itu. Sangat menarik. Yang beliau sering bicarakan adalah salah satunya mengenai sikap lingkungan terhadap si penderita. Ada yang betul-betul memahami penyakitnya, sampai ada yang mendiskriminasi karena penyakit yang dialaminya. Saya sangat mengapresiasi terhadap keluarga dan lingkungan yang dapat menerima dengan baik, karena masih banyak lingkungan yang mendiskriminasikan penderita sakit mental. Dan satu hal lagi, lingkungan khususnya keluarga masih banyak yang belum peka dengan kondisi psikologis orang disekitarnya. Seperti anak yang terkena panas tinggi tanpa pikir panjang orangtua seringkali langsung membawanya kedokter, tapi kalau anak yang setiap hari diam dikamar, melamun, dianggapnya baik-baik saja padahal ternyata tidak baik. Kalau sakit fisik kita bisa diindra dengan jelas, kalau sakit psikis tidak. Tapi orangtua harus segera mawas, kalau sakit fisik maupun psikis (terutama psikis) harus segera ditangani.

Kalau ada kalimat sakit psikis tidak akan membawa mati = SALAH BESAR

Buktinya? Kita lihat berita berapa banyak orang yang bunuh diri gara-gara stress yang dialaminya, berapa banyak anak yang membunuh orangtuanya gara-gara penyakit jiwanya, berapa banyak anak yang melakukan tindak kejahatan akibat keluarga yang tidak harmonis, dan berapa banyak orang yang berjalan dijalanan tanpa busana akibat depresi berat yang dialaminya.

Dan lagi-lagi, salahnya lingkungan seringkali mendiskriminasikan orang dengan penyakit mental daripada orang dengan penyakit fisiknya. Kenapa? Padahal sama saja, sama-sama butuh perawatan dan perhatian. Bukan cacian atau pengusiran.

Lewat cerita singkat dan sederhana ini, saya ingin membagi sebuah pelajaran ketika perkuliahan. Saya ingin mengajak siapapun, khususnya para orangtua untuk lebih peka terhadap perubahan psikologis anak, dan keluarga, berusaha untuk tidak saling menyakiti satusama lain, dan jangan pernah sepelekan penyakit psikis. Terakhir, JANGAN DISKRIMINASIKAN PENDERITA SAKIT MENTAL.

Kamis, 28 April 2016

Resensi Film Into The Wild
Tokoh utama bernama Christophe Johnson. Film berdurasi 2 jam lebih ini terinspirasi dari kisah nyata dari seorang Christopher Johnson yang mencari makna hidupnya ke alam liar, Alaska.
Masa kecilnya hidup dengan bahagia, yang terlahir dari orang tua yang ambisius dan ia mempunyai seorang adik perempuan. Hanya semakin ia besar, semakin sering orang tuanya bertengkar sehingga ia jenuh dengan keadaan orang tua-nya yang seperti itu. Ayahnya tidak mampu berlaku adil terhadap dirinya, sehingga ia membenci ayahnya sendiri.
Kemudian ia mampu menjadi seorang yang sukses ia pun telah menikah dengan seorang gadis yang cantik. Namun ia merasa tidak puas dengan yang diperoleh dan melihat kehidupan penuh dengan aturan dan kekangan. Ia merasa haus akan kebebasan. Maka ia pergi sejauh mungkin, dan menutupi jejak kepergiannya agar tidak ada satu orangpun yang ia kenal dapat menemukannya. Ia mengubah pola hidupnya dan membuang seluruh identitasnya, juga mengganti namanya mejadi Alex.
Ia pergi ke alam liar, tujuannya adalah Alaska. Ia berusaha sangat keras untuk berhasil sampai disana. Beberapakali ia bekerja untuk persediaan makanan dan mencuri perahu untuk transportasi menuju alaska.
Sampai akhirnya ia sampai di alam liar bernamakan Alaska. Ia temukan kepuasan hidup dan kebebasan hidupnya disana, dan meninggal dunia disana.
Analisis Film Into The Wild
Film into the wild ini secara garis besar mendeskripsikan pencarian jati diri, makna hidup, dan aktualisasi diri seseorang. Lingkungan dan kehidupan yang mendorong ia untuk mencari makna hidup dan kebebasan yang lain di alam liar Alaska.
Beberapa aspek kehidupan yang dimaknai Christopher keberartian hidup, kepuasan hidup, dan kebebasan hidup. Ia mencari kesemuanya itu ke alam liar Alaska. Ia memiliki banyak cara untuk mencapai tujuan hidupnya itu.
Creative Value yang dilakukan Christopher adalah pergi menjauhi orang-orang terdekatnya, pergi menggunakan mobil dan menghilangkan jejaknya, lalu mengilangkan segala identitas dan menggantikannya dengan identitas yang baru, mencuri perahu kecil untuk transportasi menuju Alaska.
Frankl menyatakan dalam teorinya cara seseorang mencapai makna hidup adalah dengan 3 cara, yaitu Creative Value, Eksperiensial Value, dan Etitudinal Value. Yang terpenuhi oleh Christopher hanya Creative Value dan Etitudinal Value sedangkan Eksperiensial Value tidak terpenuhi. Sehingga inilah, yang menyebabkan kebahagiaan yang ia peroleh sangat singkat yang berujung pada kebosanan menjalani hidup, frustasi, depresi, merasa hidupnya tidak berarti, hampa, tidak punya tujuan hidup, putus asa dan akhrirnya meninggal dunia karenanya.
Sedangkan dalam hierarki kebutuhan Abraham Maslow, hanya sedikit yang terpenuhi oleh Christopher. Kebutuhan fisiologi terpenuhi, hanya kebutuhan sexual terhambat karena keterpisahannya dengan orang-orang. Safety, ia mampu menjaga dirinya dengan baik namun tidak dijaga dengan kehadiran orang lain. Belonging and love, Christopher mendapatkannya hanya dari adik dan istrinya, sementara orang tuanya sedikit mengabaikan, setelah terpisah dari orang-orang maka ia kehilangan seluruh kebutuhan belonging and love. Self esteem, kebutuhan yang tidak terpenuhi karena dia terlahir sebagai “anak haram” dan tidak ada dunia sosial di Alaska. Aktualisasi diri, kebutuhan ini terpenuhi. Ia mampu mencapai apa yang dia inginkan, jati dirinya, dan makna hidupnya. Namun karena keempat kebutuhan lainnya tidak terpenuhi bahkan hilang, jadi kebahagiaan yang diperolehnya sangat singkat. Sehingga berujung ketidak berdayaan dalam hidup, dsb. Sehingga hal itu menjadi salah satu faktor Christopher meninggal dunia.

Popular Posts