Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman dan dengan perasaan

Catatan Kecil Cinta

Perhatikan Mental

Resensi dan Analisis Film Into The Wild

Jumat, 17 Juni 2016



Dalam bahasa Indonesia, Bully/Bullying dapat diartikan sebagai penganiayaan atau mengganggu terhadap orang yang lemah. Hal ini sudah terjadi sejak belasan tahun ke belakang, namun tersorot oleh media hanya beberapa tahun ke belakang. Padahal, penganiayaan/bullying  ini akan sangat berpengaruh bagi kesehatan fisik maupun psikis anak. Praktek bullying ini biasa terjadi pada kalangan muda; usia anak-anak akhir-usia remaja. Biasanya, yang melatar belakangi bullying adalah karena mencari perhatian dari teman sebaya dan orang tua mereka, atau juga karena merasa penting dan merasa memegang kendali[1]. Banyak juga bullying di sekolah dipacu karena meniru tindakan orang dewasa atau program televisi[2].

Latar belakang yang pertama adalah mencari perhatian dari teman sebaya, hal ini timbul dapat disebabkan karena anak mulai bosan atau anak memiliki kemampuan yang melebihi orang lain, sehingga ia ingin mendapatkan perhatian orang lain. Jika anak tidak mampu mengontrol emosinya, maka terjadilah bullying.

Latar belakang yang kedua adalah mencari perhatian dari orang tuanya. Hal ini diakibatkan dari orang tua yang tidak memerhatikan anaknya yang disebabkan oleh banyak faktor, bisa jadi karena orang tuanya sibuk bekerja, atau memang orangtua yang tidak peduli terhadap anaknya. Hal ini lah yang bisa menjadi faktor paling kuat mengapa anak melakukan bullying.

Latar belakang yang ketiga adalah meniru tindakan orang dewasa atau adegan dalam televisi. Bila kondisi ini yang dialami anak, maka alasan terkuat anak melakukan bullying adalah hal ini. Karena, proses belajar anak yang pertama adalah meniru (modeling), meniru siapapun dan apapun. Ketika anak dibawah didikan figur otoritas yang melakukan bullying, sedang anak memerhatikannya, maka akan dengan mudah diserap oleh otak anak dan masuk ke dalam long term memory (ingatan jangka panjang yang relatif permanen). Karena otak anak bagai spons, jika spons tersebut disiram dengan air sabun atau air selokan, akan dapat menyerap dengan banyak, nyaris utuh. Begitupun dengan otak anak, diberi stimulus apapun ia akan menerimanya tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Sama hal nya dengan anak yang terlalu sering menonton acara televisi yang menayangkan acara yang penuh dengan bullying, anak akan meniru apa yang dilakukan dalam acara televisi tersebut.

            Bullying sering kali dianggap sebagai hal yang biasa saja dikalangan anak-anak maupun remaja. Namun sebenarnya praktek bullying ini akan berdampak hebat bagi masa depan anak, terutama korban dari bullying itu. Jika perkelahian mengakibatkan luka pada fisik, tetapi bullying mengakibatkan luka pada fisik atau psikis, bahkan mungkin keduanya. Hal itu jarang teramati oleh guru maupun orangtua, karena sifatnya yang abstrak dan kasat mata. 

             Praktek bullying akan mencederai hampir seluruh bagian psikis, seperti sosioemosi, kognisi, tingkah laku, identitas diri, dan sebagainya. Dari segi sosioemosi, akan ada beberapa kemungkinan yang terjadi, yaitu anak menjadi pemberontak, anak akan menjadi penakut, anak akan menjadi sangat selektif dalam memilih teman, menjadi penyendiri, dan sebagainya. Dalam identitas dirinya anak akan cenderung merasa dirinya lemah, tak berdaya, self esteem (harga diri) nya turun atau pada kasus yang berat, bisa jadi harga dirinya hancur. Kemudian pada aspek kognitif anak korban bullying akan berdampak terhadap persepsi, memori, bahasa, kreativitasnya dan lain-lain.


            Persepsi terbentuk dari stimulus yang diterima oleh sistem sensorik (pancar indra), kemudian transduksi (pemrosesan), kemudian penyimpanan sensorik ikonik (penyimpanan sementara) atau echonik (memilih informasi yang relevan), kemudia aktivitas pada korteks yang merupakan pengkodean informasi, lalu informasi tersebut diproses kembali lalu masuk ke dalam memori, dan muncul dalam tingkah laku. Yang akan diciderai oleh bullying adalah proses dan hasil mempersepsi itu sendiri. Contoh kecilnya adalah, jika anak menjadi korban bullying oleh orang yang berbadan tinggi, besar, dan berkulit hitam, maka ia akan mempersepsi orang lain yang memiliki ciri-ciri serupa sebagai pembully sehingga ia akan menjauh darinya walaupun dalam kenyataannya orang tersebut baik hati.
            Memori terbagi menjadi 2, yaitu memori jangka pajang (long term memory) dan memori jangka pendek (Short term memory). Jika tadi memori jangka panjang relatif permanen, maka memori jangka pendek adalah memori yang tidak permanen. Ketika anak menjadi korban bullying, maka memorinya akan tercederai oleh ingatan-ingatan buruk tentang dirinya yang dibully. Dan pengalaman tersebut biasanya melekat dalam memori jangka panjang.
            Bahasa merupakan komunikasi verbal. Yang dicederai oleh bullying terhadap bahasa ialah anak akan cenderung diam dalam sebuah lingkungan sosial karena merasa malu, takut, atau tidak punya harga diri.
            Anak korban bullying mungkin akan mengalami hambatan dalam kreativitas karena ketertindasan dirinya. Sehingga ketika ia ingin mengaktualisasikan dirinya, ia terhambat dengan ketakutan terhadap temannya.
            Kesemua hal itu, akan diinterpretasikan pada tingkah lakunya. Orang tua harus tahu betul bagaimana sikap anaknya. Sehingga ketika ditemukan keanehan pada anak, orang tua mampu bertindak. Cara mengenal sifat anak adalah lekatkan emosional orangtua dengan anak, hal itu sekaligus menjadi kunci orang tua, agar anak mau bercerita segala hal yang dialaminya pada orang tuanya.
            Tidak cukup rasanya, yang melakukan pencegahan bullying adalah orangtua saja. Semua pihak harus turut serta melakukan pencegahan ini; orangtua, guru, kakak, adik, walikelas, dan sebagainya. Demi terciptanya generasi yang bermental sehat. Dan mari kita mulai dari diri sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?



[1]http://id.theasianparent.com/si-penindas-di-kelas/. Diakses pada tanggal 09 Desember 2015 Pukul 18.15 WIB.
[2] Ibid

Popular Posts