Dalam bahasa
Indonesia, Bully/Bullying dapat diartikan sebagai penganiayaan
atau mengganggu terhadap orang yang lemah. Hal ini sudah terjadi sejak belasan
tahun ke belakang, namun tersorot oleh media hanya beberapa tahun ke belakang.
Padahal, penganiayaan/bullying ini akan sangat berpengaruh bagi kesehatan
fisik maupun psikis anak. Praktek bullying ini biasa terjadi pada
kalangan muda; usia anak-anak akhir-usia remaja. Biasanya, yang melatar
belakangi bullying adalah karena mencari
perhatian dari teman sebaya dan orang tua mereka, atau juga karena merasa
penting dan merasa memegang kendali[1]. Banyak juga bullying di
sekolah dipacu karena meniru tindakan orang dewasa atau program televisi[2].
Latar
belakang yang pertama adalah mencari perhatian dari teman sebaya, hal ini
timbul dapat disebabkan karena anak mulai bosan atau anak memiliki kemampuan
yang melebihi orang lain, sehingga ia ingin mendapatkan perhatian orang lain.
Jika anak tidak mampu mengontrol emosinya, maka terjadilah bullying.
Latar
belakang yang kedua adalah mencari perhatian dari orang tuanya. Hal ini
diakibatkan dari orang tua yang tidak memerhatikan anaknya yang disebabkan oleh
banyak faktor, bisa jadi karena orang tuanya sibuk bekerja, atau memang
orangtua yang tidak peduli terhadap anaknya. Hal ini lah yang bisa menjadi
faktor paling kuat mengapa anak melakukan bullying.
Latar
belakang yang ketiga adalah meniru tindakan orang dewasa atau adegan dalam
televisi. Bila kondisi ini yang dialami anak, maka alasan terkuat anak
melakukan bullying adalah hal ini. Karena, proses belajar anak yang pertama
adalah meniru (modeling), meniru siapapun dan apapun. Ketika anak
dibawah didikan figur otoritas yang melakukan bullying, sedang anak
memerhatikannya, maka akan dengan mudah diserap oleh otak anak dan masuk ke
dalam long term memory (ingatan jangka panjang yang relatif permanen).
Karena otak anak bagai spons, jika spons tersebut disiram dengan air sabun atau
air selokan, akan dapat menyerap dengan banyak, nyaris utuh. Begitupun dengan
otak anak, diberi stimulus apapun ia akan menerimanya tanpa menyaringnya
terlebih dahulu. Sama hal nya dengan anak yang terlalu sering menonton acara
televisi yang menayangkan acara yang penuh dengan bullying, anak akan
meniru apa yang dilakukan dalam acara televisi tersebut.
Bullying sering kali dianggap
sebagai hal yang biasa saja dikalangan anak-anak maupun remaja. Namun
sebenarnya praktek bullying ini akan berdampak hebat bagi masa depan
anak, terutama korban dari bullying itu. Jika perkelahian mengakibatkan
luka pada fisik, tetapi bullying mengakibatkan luka pada fisik atau
psikis, bahkan mungkin keduanya. Hal itu jarang teramati oleh guru maupun
orangtua, karena sifatnya yang abstrak dan kasat mata.
Praktek bullying akan mencederai hampir
seluruh bagian psikis, seperti sosioemosi, kognisi, tingkah laku, identitas
diri, dan sebagainya. Dari segi sosioemosi, akan ada beberapa kemungkinan yang
terjadi, yaitu anak menjadi pemberontak, anak akan menjadi penakut, anak akan
menjadi sangat selektif dalam memilih teman, menjadi penyendiri, dan sebagainya.
Dalam identitas dirinya anak akan cenderung merasa dirinya lemah, tak berdaya, self
esteem (harga diri) nya turun atau pada kasus yang berat, bisa jadi harga
dirinya hancur. Kemudian pada aspek kognitif anak korban bullying akan
berdampak terhadap persepsi, memori, bahasa, kreativitasnya dan lain-lain.
Persepsi terbentuk dari stimulus
yang diterima oleh sistem sensorik (pancar indra), kemudian transduksi
(pemrosesan), kemudian penyimpanan sensorik ikonik (penyimpanan sementara) atau
echonik (memilih informasi yang relevan), kemudia aktivitas pada korteks yang
merupakan pengkodean informasi, lalu informasi tersebut diproses kembali lalu
masuk ke dalam memori, dan muncul dalam tingkah laku. Yang akan diciderai oleh bullying
adalah proses dan hasil mempersepsi itu sendiri. Contoh kecilnya adalah, jika
anak menjadi korban bullying oleh orang yang berbadan tinggi, besar, dan
berkulit hitam, maka ia akan mempersepsi orang lain yang memiliki ciri-ciri
serupa sebagai pembully sehingga ia akan menjauh darinya walaupun dalam
kenyataannya orang tersebut baik hati.
Memori terbagi menjadi 2, yaitu
memori jangka pajang (long term memory) dan memori jangka pendek (Short
term memory). Jika tadi memori jangka panjang relatif permanen, maka memori
jangka pendek adalah memori yang tidak permanen. Ketika anak menjadi korban bullying,
maka memorinya akan tercederai oleh ingatan-ingatan buruk tentang dirinya yang
dibully. Dan pengalaman tersebut biasanya melekat dalam memori jangka
panjang.
Bahasa merupakan komunikasi verbal.
Yang dicederai oleh bullying terhadap bahasa ialah anak akan cenderung
diam dalam sebuah lingkungan sosial karena merasa malu, takut, atau tidak punya
harga diri.
Anak korban bullying mungkin
akan mengalami hambatan dalam kreativitas karena ketertindasan dirinya.
Sehingga ketika ia ingin mengaktualisasikan dirinya, ia terhambat dengan
ketakutan terhadap temannya.
Kesemua hal itu, akan
diinterpretasikan pada tingkah lakunya. Orang tua harus tahu betul bagaimana
sikap anaknya. Sehingga ketika ditemukan keanehan pada anak, orang tua mampu
bertindak. Cara mengenal sifat anak adalah lekatkan emosional orangtua dengan
anak, hal itu sekaligus menjadi kunci orang tua, agar anak mau bercerita segala
hal yang dialaminya pada orang tuanya.
Tidak cukup rasanya, yang melakukan
pencegahan bullying adalah orangtua saja. Semua pihak harus turut serta
melakukan pencegahan ini; orangtua, guru, kakak, adik, walikelas, dan
sebagainya. Demi terciptanya generasi yang bermental sehat. Dan mari kita mulai
dari diri sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?
[1]http://id.theasianparent.com/si-penindas-di-kelas/.
Diakses pada tanggal 09 Desember 2015 Pukul 18.15 WIB.
[2] Ibid




